Sabtu, 16 Oktober 2010

ANTIFUNGI

 

Pada dasawarsa terakhir, di seluruh dunia disinyalir adanya peningkatan luar biasa kasus infeksi oleh jamur. Kasus infeksi seperti infeksi mukosa mulut, bronchia, usus, vagina dan lain-lain oleh Candida albicans.

Penggolongan obat jamur sistemik
  • Amfoterisin B. Obat ini dapat menghambat aktivitas Histoplasma capsulatum, Cryptococcus neoformans, Coccidioides immitis, beberapa spesies Candida, Torulopsis glabrata, Rhodotorula, Blastomyces dermatitis, Paracoc braziliensis, beberapa strain Aspergillus, Sporotrichum schenckii, Microsporum audiouini dan spesies Trichophyton.
  • Flusitosin. Obat ini efektif untuk pengobatan Kriptokokosis, Kandidosis, Kromomikosis, Torulopsis dan Aspergilosis.
  • Ketokonazol dan Triazol. Sebagai turunan Imidazol, Ketokonazol mempunyai aktivitas anti jamur baik sistemik maupun nonsistemik, Efektif terhadap Candida, Coccioides immitis, Cryptococcus neoformans, H.capsulatum, B.dermatitidis, Aspergillus dan Sporothrix.
  • Kalium Iodida adalah obat terpilih untuk Cutaneous lymphatic sporotrichosis.
  • Infeksi jamur (mikosis) sistemik jarang dijumpai, tetapi berbahaya dan sifatnya kronis.
  • Amfoterisin B merupakan obat jamur yang efektif untuk infeksi sistemik yang berat. Dikarenakan toksisitasnya, obat ini harus diberikan dengan infus di rumah sakit oleh tenaga medis yang kompeten.
  • Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran sel jamur. Ikatan ini akan menyebabkan membran sel bocor sehingga terjadi kehilangan bahan intrasel dan mengakibatkan kerusakan yang tetap pada sel.
  • Disamping Amfoterisin B, Ketokonazol adalah suatu obat jamur untuk infeksi sistemik yang berspektrum luas.
Infeksi jamur sistemik
  • Aspergilosis. Aspergilosis paru sering terjadi pada penderita penyakit imunosupresi yang berat dan tidak memberi respon yang memuaskan terhadap pengobatan dengan obat jamur. Obat pilihan untuk penyakit ini adalah Amfoterisin B secara intra vena dengan dosis 0,5-1,0 mg/kg BB setiap hari.
  • Blastomikosis. Obat jamur terpilih untuk Blastomikosis adalah Ketokonazol per oral 400 mg mg sehari selama 6-12 bulan. Itrakonazol dengan dengan dosis 200-400 mg sekali sehari juga efektif pada beberapa kasus. Amfoterisin B sebagai cadangan untuk penderita yang tidak dapat menerima Ketokonazol.
  • Kandidiasis. Pengobatan menggunakan Amfoterisin B. Flusitosin diberikan bersama Amfoterisin B untuk Meningitis, Endoftalmitis, Artritis oleh Kandida. Disamping penyebarannya yang lebih baik ke jaringan sakit, Flusitosisn diduga bekerja aditif dengan Amfoterisin B sehingga dosis Amfoterisin B dapat dikurangi.
  • Koksidioidomikosis. Adanya kavitis (ruang berongga) tunggal di paru atau adanya infiltrasi fibrokavitis yang tidak responsif terhadap kemoterapi merupakan ciri khas penyakit kronis Koksidioidomikosis. Penyakit ini dapat diobati dengan Amfoterisin B secara intra vena, Ketokonazol, Itrakonazol.
  • Kriptokokosis. Obat terpilih adalah Amfoterisin B dengan dosis 0,4-0,5 mg/kg per hari secara intra vena. Penambahan Flusitosin dapat mengurangi pemakaian Amfoterisin B (0,3 mg/kg). Flukonazol bermanfaat untuk terapi supresi pada penderita AIDS.
  • Histoplasmosis. Penderita histoplasmosis paru kronis sebagian besar dapat diobati dengan Ketokonazol 400 mg per hari selama 6-12 bulan. Itrakonazol 200-400 mg sekali sehari juga cukup efektif. Amfoterisin B intra vena secara intra vena juga dapat diberikan selama 10 minggu.
  • Mukormikosis. Amfoterisin B merupakan obat pilihan untuk Mukormikosis paru kronis.
  • Parakoksidioidomikosis. Ketokonazol 400 mg per hari merupakan obat pilihan yang diberikan selama 6-12 bulan. Pada keadaan yang berat diberikan terapi awal Amfoterisin B.
  • Sporotrikosis. Obat terpilih untuk keadaan ini ialah pemberian oral larutan jenuh Kalium Iodida (1 g/ml) dengan dosis 3 kali 40 tetes sehari yang dicampur dengan sedikit air. Obat Sporotrikosis yang menyerang paru, tulang,
Amfoterisin B
  • Merupakan hasil fermentasi dari Streptomyces nodosus
  • Menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel matang
  • Bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung dosis.
  • Efektif menghambat Histoplasma capsulatum, Cryptococcus neoformans, Candida, Blastomyces dermatiditis, Aspergillus.
  • Mekanism kerja : berikatan kuat dengan ergosterol yang terdapat pada membran sel jamur, sehingga menyebabkan kebocoran dari membran sel, dan akhirnya lisis.
  • Farmakokinetik : sangat sedikit diserap melalui saluran cerna diberikan secara IV, distribusi ke cairan pleura, peritoneal, sinovial dan akuosa, CSS, cairan amnion. Ekskresi melalui ginjal sangat lambat.
  • Indikasi : mikosis sistemik seperti koksidioidomikosis, parakoksidiomikosis, aspergilosis, kandidiosis, blastomikosis, histoplasmosis.
  • Efek samping : demam dan menggigil, gangguan ginjal, hipotensi, anemia, efek neurologik, tromboflebitis.
  • Penderita yang diobati amfoterisin B harus dirawat di rumah sakit, karena diperlukan pengamatan yang ketat selama pemberian obat.
  • Sediaan : injeksi dalam vial yang mengandung 50 mg, dilarutkan dalam 10 ml aquadest diencerkan dengan dextrose 5 % = 0,1 mg/ml larutan.
  • Dosis : 0,3 – 0,5 mg / kg BB
Flusitosin
  • Spektrum antijamur sempit
  • Efektif untuk kriptokokosis, kandidiosis, kromomikosis, aspergilosis.
  • Mekanisme kerja : flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalami deaminasi menjadi 5-fluorourasil. Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan langsung sintesis DNA oleh metabolit 5-fluorourasil.
  • Farmakokinetik : diserap dengan cepat dan baik melalui sal.cerna, distribusi ke seluruh tubuh, ekskresi oleh ginjal.
  • Indikasi : kromoblastomikosis, meningitis (kombinasi dengan amfoterisin B)
  • Efek samping : toksisitas hematologik, gangguan hati, gangguan sal.cerna
  • Sediaan : kapsul 250 dan 500 mg.
  • Dosis : 50 – 150 mg/kgBB sehari dibagi dalam 4 dosis, lakukan penyesuaian dosis pada penderita insufisiensi ginjal.
Ketokonazol
  • Efektif terhadap Candida, Coccodioides immitis, Cryptococcus, H. capsulatum, Aspergillus.
  • Mekanisme kerja : berinteraksi dengan enzim P-450 untuk menghambat demetilasi lanosterol menjadi ergosterol yang penting untuk membran jamur.
  • Farmakokinetik : diserap baik melalui sal. Cerna, distribusi urin, kel.lemak,air ludah, kulit, tendon, cairan sinovial. Ekskresi melalui empedu, sebagian kecil ke urin.
  • Indikasi :histoplasmosis paru, tulang, sendi dan jaringan lemak, kriptokokosis, kandidosis.
  • Efek samping : gangguan sal cerna, efek endokrin (ginekomastia, peningkatan libido, impotensi, ketidakteraturan menstruasi)
  • Kontra indikasi : tidak boleh diberikan bersamaan dengan amfoterisin B
Flukonazol
  • Efek samping endokrin lebih kecil dibanding ketokonazol
  • Mekanisme kerja : menghambat sintesis ergosterol membran sel jamur.
  • Farmakokinetik : diberikan oral dan IV, absorpsi baik, ekskresi melalui ginjal.
  • Efk samping : lebih kecil dibanding ketokonazol, mual, muntah, kulit kemerahan, teratogenik.
Itrakonazol
  • Obat pilihan untuk blastomikosis
  • Efektif untuk aspergilosis, kandedimia, koksidioidomikosis, kriptokokosis.
  • Mekanisme kerja sama dengan azol lain
  • Farmakokinetik : absorpsi baik melalui oral, ekskresi melalui ginjal.
  • Efek samping : mual, muntah, kulit kemerahan, hipokalemia, hipertensi, edema dan sakit kepala.
Griseofulvin
  • Jamur yang menyebabkan infeksi jamur superfisial disebut dermatofit.
  • Mekanisme kerja : obat ini masuk ke dalam sel jamur, berinteraksi dengan mikrotubulus dalam jamur dan merusak serat mitotik dan menghambat mitosis
  • Farmakokinetik : absorpsi baik bila diberikan bersama makanan berlemak tinggi,distribusi baik ke jaringan yang terkena infeksi, inducer P-450, ekskresi melalui ginjal.
  • Efek samping : efek samping berat jarang terjadi, hepatotoksik, teratogenik.
  • Sediaan : tablet berisi mikrokristal 125 mg dan 500 mg, suspensi 125 mg/ml.
Nistatin
  • Merupakan antibiotik polien.
  • Mekanisme kerja : berikatan dengan ergosterol pada membran jamur, permeabilitas meningkat, sel jamur mati.
  • Indikasi : kandidiasis kulit, selaput lendir, dan saluran cerna.
  • Efek samping : jarang ditemukan, mual, muntah, diare ringan
Mikonazol dan obat topikal lain
  • Mikonazol, klotrimazol, ekonazol aktif secara topikal jarang digunakan parenteral.
  • Efek samping : iritasi, rasa terbakar.
  • Mekanisme kerja, spektrum, distribusi sama dengan ketokonazol.
  • Sediaan : Mikonazol krim 2 %, gel 2 %, klotrimazol krim 1 %.
 
DOWNLOAD NOW

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.